Merevisi Teks Tantangan Pembatasan Solar Bersubsidi
Saturday, July 25, 2020
Edit
Merevisi teks tantangan merupakan aktivitas yang dilakukan untuk memperbaik sebuah teks tantangan. Pada aktivitas ini Anda diminta untuk merevisi sebuah teks tantangan yang disajikan, namun masih terdapat beberapa kekeliruan. Revisi teks tersebut sanggup berupa kesalahan ejaan, pilihan kata, atau kalimat. Di samping itu, revisi sebuah teks tantangan juga pada pecahan struktur teksnya semoga sesuai dengan struktur teks tantangan. Untuk itu memang diharapkan kecermatan dalam mengamati sebuah teks. Teks yang akan direvisi yakni pada aktivitas ini yakni sebuah teks tantangan dengan judul "Pembatasan Solar Bersubsidi Dinilai Repotkan Warga".
Supaya aktivitas merevisi teks tantangan sanggup berjalan dengan baik, silahkan baca teks tersebut dengan cermat. Perhatikan kata-kata yang masih kurang tepat. Perlu diketahui bahwa di dalam teks tersebut banyak dijumpai kesalahan, terutama ejaan dan bentuk kata. Struktur teksnya pun belum menggambarkan struktur teks tantangan. Untuk itu, pada pecahan ini, silahkan perbaiki teks tersebut sehingga menjadi teks tantangan yang benar dan penggunaan unsur kebahasaan pun juga benar. Berikut ini pola hasil revisi teks tantangan.
Pembatasan Solar Bersubsidi Dinilai Repotkan Warga
Jenis Kalimat | Contoh Kalima |
---|---|
Isu (masalah) | P.T. Pertamina mulai memberlakukan pembatalan penjualan solar bersubsidi disetiap di setiap Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) |
Argumen menentang | Pembatasan BBM bersubsidi, khususnya solar, dengan pembatasan jam penjualan di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) dinilai tidak akan efektif. Hingga ketika ini belum ada kejelasan secara resmi perihal pembatasan penjualan solar bersubsidi untuk SPBU. Hal ini menuai kecaman sejumlah masyarakat. Seorang warga di Jakarta Timur menyampaikan bahwa pembatasan waktu penjualan solar bersubsidi ini sangat merepotkan. Kebijakan pembatasan jam tersebut akan merepotkan orang-orang kecil. Cara menyerupai itu juga dinilai tidak efektif alasannya yakni ketika masih ada pilihan yang murah maka masyarakat akan menentukan yang murah, yakni solar bersubsidi dibanding yang non subsidi. Warga Jati Bening, Jakarta Timur, itu mengaku kerepotan dengan adanya pembatalan penjualan solar bersubsidi Hal yang sama juga |
Simpulan | Penjaga SPBU, Yuliana mengaku sosialisasi pembatasan penjualan solar (Sumber: http://ekonomi.metrotvnews.com/read/2014/08/04/273178/pembatasan-solar-bersubsidi-dinilai-repotkan-warga |
Related:
Pembatasan solar bersubsidi ternyata mengakibatkan kelangkaan ketersediaan solar, yang ujung-ujungnya akan berdampak kepada masyarakat lapis bawah. Lantaran, pengguna solar sebagaian besar yakni rakyat kecil, menyerupai sopir angkutan umum, petani, dan nelayan. Sopir angkot dan bus antarkota-propinsi, serta sopir truk harus kehilangan pendapatannya karena mereka tidak sanggup memenuhi sasaran setoran akhir solar semakin langka. Petani pengguna traktor tidak sanggup menggarap sawah alasannya yakni solar tidak tersedia untuk menjalankan traktornya. Para nelayan tidak sanggup lagi menghidupi keluarganya alasannya yakni tidak sanggup melaut tanpa ketersediaan solar untuk menjalankan kapal penangkap ikan.