Kaidah Kebahasaan Dalam Teks Pantun
Tuesday, August 4, 2020
Edit
Sebuah pantun memakai bahasa sebagai media untuk mengungkapkan makna yang ingin disampaikan. Struktur kebahasaan pada sebuah pantun sering juga disebut dengan struktur fisik. Struktur fisik tersebut meliputi diksi, bahasa kiasan, imaji, dan bunyi yang terdiri atas rima dan ritme. Jika ingin berpantun, harus mempunyai kemampuan berbahasa yang memadai. Dengan berpantun, dilatih untuk berpikir secara spontan, yakni berpikir secara cepat serta mempunyai kemampuan untuk menangkap dan menanggapi sesuatu secara cepat pula.
Pantun berperan sebagai alat pemelihara bahasa, pantun berperan sebagai penjaga fungsi kata dan menjaga alur berpikir. Pantun melatih seseorang akan makna kata sebelum berujar. Pantun juga orang berpikir asosiatif, bahwa suatu kata mempunyai kaitan dengan kata yang lain. Secara sosial pantun mempunyai fungsi pergaulan sosial yang kuat, bahkan hingga dengan sekarang. Dikalangan generasi muda kemampuan berpantun sangat dihargai. Pantun menunjukkan kemampuan orang berpikir dan bermain kata-kata. Secaara umum pantun tugas sosial pantun berfungsi sebagai penyampai pesan.
1. Diksi
Agar tujuan sebuah pantun sanggup disampaikan dengan sempurna, seseorang yang melantunkan pantun harus jeli menempatkan kata-kata tertentu. Penempatan diksi yang tepat menjadi sangat penting. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu ibarat yang diharapkan.
Agar tujuan sebuah pantun sanggup disampaikan dengan sempurna, seseorang yang melantunkan pantun harus jeli menempatkan kata-kata tertentu. Penempatan diksi yang tepat menjadi sangat penting. Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), diksi diartikan sebagai pilihan kata yang tepat dan selaras dalam penggunaannya untuk mengungkapkan gagasan sehingga diperoleh efek tertentu ibarat yang diharapkan.
Pantun yang dipakai untuk berkomunikasi biasanya menggambarkan masyarakat pada zamannya (zaman pantun tersebut diciptakan), yang tentu saja terlihat pada diksi yang digunakan. Misalnya pantun yang lahir pada zaman tradisional, kerap memakai diksi yang berkaitan dengan alam dan kehidupan masyarakat ketika itu.
Jika diperhatikan pantun yang lahir pada masa dahulu, maka akan dinemukan beberapa kata arkais yang sudah jarang ditemukan ketika ini. Berikut ini beberapa kata arkais yang sering muncul dalam pantun tradisonal.
No. | Kata Arksis | Makna Kata |
1. | Tingkap | Jendela di atap, di dinding , dan sebagainya. |
2. | Jikalau | Kalau ; Jika |
3. | Langau | Lalat besar yang suka mengisap darah binatang ; pikat . |
4. | Lesap | Hilang ; Lenyap ; Lucut. |
5. | Lubuk | Bagian yang dalam di perairan (sungai, laut, danau, dan sebagainya) |
6. | Gaharu | Kayu yang harum baunya, biasanya dari pohon tengkuras. |
7. | Tenun | Hasil kerajinan yang berupa materi (kain) yang dibentuk dari benang (kapas, sutera, dan sebagainya) dengan cara memasuk-masukkan pakan secara melingtan pada lungsin |
8. | Amanat | Keseluruhan makna atau isi pembicaraan ; konsep atau perasaan yang ingin disampaikan oleh pembicara untuk dimengerti dan diterima pendegar atau atau pembaca. |
9. | Selendang | Kain (sutra, dan sebagainya) panjang epilog leher (bahu, atau kepala) atau untuk menari |
10. | Pedada | Pohon yang tumbuh di hutan-hutan bakau, tingginya mencapai 15 meter. Berakar napas yang keluar dari lumpur, bentuk daunnya bulat telur, ujungnya tumpul dan membundar, panjangnya 5—13 cm; beremban;. |
Akan tetapi, diksi yang dipakai berbeda dengan pantun yang lahir pada zaman modern. Kata yang dipakai seringkali dihubungkan dengan kondisi masyarakat modern dengan banyak sekali sarana dan prasarana mutakhir. Simak beberapa bait pantun berikut ini.
Jalan-jalan ke pasar unik,
membeli baju dan handphone baru.
Siapa gerangan perempuan cantik,
yang tersenyum di hadapanku.
Mencari ikan di dalam lubuk,
ikan gabus banyak dinanti,
lubuk dalam tanah tertimbun.
Setiap hari bermain facebook,
bosan rasanya status berganti,
perkenankan hamba lantunkan talibun.
No. | Diksi Mutakhir | Makna Kata |
1. | Facebook yakni sarana sosial yang menghubungkan orang-orang dengan sahabat dan rekan mereka lainnya yang bekerja, belajar, dan hidup di sekitar mereka. | |
2. | Handphone | Handphone (HP) yakni perangkat telekomunikasi elektronik yang sanggup dibawa ke mana-mana (portabel/mobile) dan tidak perlu disambungkan dengan jaringan telepon memakai kabel (nirkabel; wireless). |
3. | Status | Kabar berita |
2. Bahasa kiasan
Dalam pantun sering ditemukan bahasa kiasan, yaitu bahasa yang digunakan pelantun untuk menyatakan sesuatu dengan cara yang tidak biasa, yang secara tidak langsung mengungkapkan makna. Bahasa kiasan di sini bisa berupa peribahasa atau ungkapan tertentu dalam memberikan maksud berpantun.
Ungkapan atau bentuk idiom yakni adonan kata yang mengakibatkan makna baru, yakni makna khusus, sehingga tidak sanggup diartikan secara sebenarnya. Misalnya isapan jempol dimaknai sebagai ‘tidak bermakna’, bertekuk lutut ‘menyerah’, oleh-oleh ‘oleh-oleh’, dan sebagainya. Carilah makna ungkapan yang ada pada kolom berikut dan buatlah pola dalam kalimat.
Ungkapan atau bentuk idiom yakni adonan kata yang mengakibatkan makna baru, yakni makna khusus, sehingga tidak sanggup diartikan secara sebenarnya. Misalnya isapan jempol dimaknai sebagai ‘tidak bermakna’, bertekuk lutut ‘menyerah’, oleh-oleh ‘oleh-oleh’, dan sebagainya. Carilah makna ungkapan yang ada pada kolom berikut dan buatlah pola dalam kalimat.
No. | Ungkapan | Makna | Makna Kata |
1. | Besar kepala | Sombong | Pak Ardi menjadi angkuh sehabis menduduki jabatan baru. |
2. | Kaki tangan | Anak buah | Mereka berdua telah benar-benar menjadi kaki tangan bagi Danurejo dan juga kafir Belanda. |
3. | Tebal muka | Tidak tahu malu | Memang tebal muka anak itu, masa ia berani mencuri di depan orang tuanya. |
4. | Kepala batu | Tidak mau nasihat dari orang lain | Udin anak yang berkepala batu, sudah dinasehati semoga rajin berguru tetapi selalu saja ia bermain-main dengan teman-temannya |
5. | Mata-mata | Pengintip | Dalam Serat Centini diceritakan, intel Susuhunan Amangkurat karenanya mengetahui daerah persembunyian keturunan Sunan Giri, musuh turun-temurun dinasti Mataram. |
7. | Darah biru | Keturunan bangsawan | Dalam banyak budaya terutama Jawa, pewaris darah biru ini biasanya akan berusaha mendapat pasangan yang juga berasal dari kalangan darah biru. |
8. | Banting tulang | Bekerja keras | Ayah membanting tulang demi mencukupi kebutuhan anak dan istrinya. |
9. | Ringan tangan | Suka membantu | Wawan memang anak yang ringan tangan, setiap orang yang kesulitan niscaya dibantunya. |
10. | Tangan besi | Memerintah dengan semena-mena | Raja itu memang pantas mendapat ganjarannya lantaran selama ini memerintah rakyatnya dengan tangan besi. |
3. Imaji
Imaji atau citraan yang dihasilkan dari diksi dan bahasa kiasan dalam pembuatan teks pantun. Jika kita melaksanakan pengimajian, akan menghasilkan gambaran yang diciptakan secara tidak pribadi oleh pelantun pantun. Oleh alasannya yakni itu, apa yang digambarkan seakan-akan sanggup dilihat (imaji visual), didengar (imaji auditif), atau dirasa (imaji taktil).
Perhatikan sebait pantun berikut ini.
Jikalau gelap orang bertenun,
bukalah tingkap lebar-lebar.
Jikalau lenyap tukang pantun,
sunyi senyap bandar yang besar.
Imaji yang dilukiskan pada pantun tersebut yakni imaji visual (melihat) dan imaji taktil (merasakan). Imaji visual sanggup dilihat pada baris pertama /Jikalau gelap orang bertenun//bukalah tingkap lebar-lebar/, seakan-akan pendengar melihat ada orang yang sedang bertenun dalam kegelapan, kemudian meminta pendengar membuka jendela lebar-lebar. Sementara itu, imaji taktil tergambar pada potongan isi /Jikalau lenyap tukang pantun//sunyi senyap bandar yang besar/. Hal ini menciptakan pendengar seakan-akan mencicipi sunyinya kota pelabuhan yang besar lantaran sudah tidak ada lagi orang yang berpantun.
Kalau pedada tidak berdaun (Imaji Visual)
Tandanya ulat memakan akar (Imaji Visual)
Kalau tak ada tukang pantun (Imaji Taktil)
Duduk musyawarah terasa dingin (Imaji Taktil)
Tikar pucuk tikar mengkuang (Imaji Visual)
Alas nikah raja melayu (Imaji Visual)
Ikan busuk jangan dibuang (Imaji Visual)
Buat perecah disaur kayu (Imaji Visual)
Telah masak buah mengkudu (Imaji Visual)
Masak pula buah kepayang (Imaji Visual)
Hati risau bercampur rindu (Imaji Taktil)
Siang malam mabuk kepayang (Imaji Taktil)
Asam kandis asam gelugur (Imaji Visual)
Ketiga asam si riang-riang (Imaji Taktil)
Menangis mayit didalam kubur (Imaji taktil)
Teringat tubuh tidak sembahyang (Imaji Taktil)
Orang berkain menutup aurat (Imaji Visual)
Sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist (Imaji Taktil)
Orang muslim hidup beradat (Imaji Visual)
Perangai sopan muka pun manis (Imaji Visual)
4. BunyiPerhatikan sebait pantun berikut ini.
Jikalau gelap orang bertenun,
bukalah tingkap lebar-lebar.
Jikalau lenyap tukang pantun,
sunyi senyap bandar yang besar.
Imaji yang dilukiskan pada pantun tersebut yakni imaji visual (melihat) dan imaji taktil (merasakan). Imaji visual sanggup dilihat pada baris pertama /Jikalau gelap orang bertenun//bukalah tingkap lebar-lebar/, seakan-akan pendengar melihat ada orang yang sedang bertenun dalam kegelapan, kemudian meminta pendengar membuka jendela lebar-lebar. Sementara itu, imaji taktil tergambar pada potongan isi /Jikalau lenyap tukang pantun//sunyi senyap bandar yang besar/. Hal ini menciptakan pendengar seakan-akan mencicipi sunyinya kota pelabuhan yang besar lantaran sudah tidak ada lagi orang yang berpantun.
Kalau pedada tidak berdaun (Imaji Visual)
Tandanya ulat memakan akar (Imaji Visual)
Kalau tak ada tukang pantun (Imaji Taktil)
Duduk musyawarah terasa dingin (Imaji Taktil)
Tikar pucuk tikar mengkuang (Imaji Visual)
Alas nikah raja melayu (Imaji Visual)
Ikan busuk jangan dibuang (Imaji Visual)
Buat perecah disaur kayu (Imaji Visual)
Telah masak buah mengkudu (Imaji Visual)
Masak pula buah kepayang (Imaji Visual)
Hati risau bercampur rindu (Imaji Taktil)
Siang malam mabuk kepayang (Imaji Taktil)
Asam kandis asam gelugur (Imaji Visual)
Ketiga asam si riang-riang (Imaji Taktil)
Menangis mayit didalam kubur (Imaji taktil)
Teringat tubuh tidak sembahyang (Imaji Taktil)
Orang berkain menutup aurat (Imaji Visual)
Sesuai dengan Al-Qur’an dan Hadist (Imaji Taktil)
Orang muslim hidup beradat (Imaji Visual)
Related:
Struktur pembangun teks pantun yang terakhir yakni bunyi yang biasanya muncul dari diksi, kiasan, serta imaji yang diciptakan ketika menuturkan pantun. Dalam bunyi, kalian akan melihat unsur rima (rhyme) dan ritme (rhytm). Rima merupakan unsur pengulangan bunyi pada pantun, sedangkan irama yakni turun naiknya bunyi secara teratur. Selain untuk memperindah bunyi pantun, bebunyian diciptakan juga semoga penutur (pelantun) dan pendengar lebih gampang mengingat serta mengaplikasikan pesan moral dan spiritual yang terdapat dalam teks pantun jenis apapun.
Dalam menghasilkan sebuah teks pantun, harus mempunyai kemahiran dalam menentukan kata yang digunakan, semoga menghasilkan bunyi yang selaras dengan rima selesai a-b-a-b. Tentu saja selain menghasilkan bunyi yang sepadan, sebuah teks pantun yang dilantunkan mempunyai makna. Berikut akan diberikan beberapa bait pantun, tetapi urutan kata dalam setiap larik tidak tersusun dengan benar.
Pemilihan dan susuan katanya ditempatkan sedemikian rupa, sehingga kata dalam pantun tidak dapat
dipertukarkan letaknya atau diganti dengan kata lain yang mempunyai makna yang sama. seandainya kata itu diganti susunannya, akan mengakibatkan kekacauan bunyi. Setelah memahami struktur pantun, kalian sanggup menyusun larik-larik yang sengaja diacak untuk menjadi sebuah bait pantun yang tepat. Tentukanlah mana yang merupakan sampiran dan mana yang merupakan isi.
Dalam menghasilkan sebuah teks pantun, harus mempunyai kemahiran dalam menentukan kata yang digunakan, semoga menghasilkan bunyi yang selaras dengan rima selesai a-b-a-b. Tentu saja selain menghasilkan bunyi yang sepadan, sebuah teks pantun yang dilantunkan mempunyai makna. Berikut akan diberikan beberapa bait pantun, tetapi urutan kata dalam setiap larik tidak tersusun dengan benar.
No. | Urutan Awal | Setelah Disusun Kembali |
1. | Pucuk-tikar-mengkuang-tikar Raja-alas-Melayu-nikah Busuk-ikan-dibuang-jangan Perecah-buat-kayu-di-asur | Tikar pucuk tikar mengkuang Alas nikah raja Melayu Ikan busuk jangan dibuang Buat perencah di saur kayu |
2. | Siang-berkebun-bila-orang Naik-gelap-hari-ke-rumah Bila-pantun-hilang-tukang Lesap-habislah-petuah-amanah | Bila siang orang berkebun Hari gelap naik ke rumah Bila hilang tukang pantun Habislah lesap petuah amanah |
3. | Apa-bertenun-orang-guna Baju-untuk-kain-dan-membuat Orang-apa-untuk-berpantun Ilmu-menimba-untuk-berbagai | Apa guna orang bertenun Untuk menciptakan kain dan baju Untuk apa orang berpantun Untuk menimba banyak sekali ilmu |
4. | Kalau-pukat-hendak-berlabuh Berdaun-kayu-carilah-pancang Adat-kurang-kalau-mengetahui Orang-berpantun-carilah-tahu | Kalau hendak berlabuh pukat Carilah pancang kayu berdaun Kalau kurang mengetahui adat Carilah orang tahu berpantun |
5. | Telurnya-hitam-putih-ayam Di-pinggir-kali-mencari-makan Hitam-giginya-orang-putih Manis-sekali-kalau-tertawa | Ayam hitam telurnya putih Mencari makan dipinggir kali Orang hitam giginya putih Kalau tertawa manis sekali. |
Pemilihan dan susuan katanya ditempatkan sedemikian rupa, sehingga kata dalam pantun tidak dapat
dipertukarkan letaknya atau diganti dengan kata lain yang mempunyai makna yang sama. seandainya kata itu diganti susunannya, akan mengakibatkan kekacauan bunyi. Setelah memahami struktur pantun, kalian sanggup menyusun larik-larik yang sengaja diacak untuk menjadi sebuah bait pantun yang tepat. Tentukanlah mana yang merupakan sampiran dan mana yang merupakan isi.
No. | Urutan Awal | Setelah Disusun Kembali |
1. | kalau hendak menuntut ilmu kalau hendak pergi meramu carilah ilmu yang bermanfaat carilah kayu berbuah lebat | Kalau hendak pergi meramu, carilah kayu yang berbuah lebat . Jika hendak menuntut ilmu, carilah ilmu yang bermanfaat. |
2. | mencabut tebu tidaklah mudah banyak sekali aral halangan menuntut ilmu tidaklah mudah banyak sekali duri lalangnya | Mencabut tebu tidaklah mudah, banyak sekali duri lalangnya. Menuntut ilmu tidaklah mudah banyak sekali aral halangan. |
3. | ayam berbunyi di bawah dapur ditutuh betung berdekak-dekak meriam bunyi awak tertidur sungguh beruntung orang pekak | Meriam bunyi awak tertidur Ditutuh betung berdekak-dekak Ayam berbunyi dibawah dapur Sungguh beruntung orang pekak |
4. | bagaimana kidung takkan kembang hendak ke hilir ditahan kera bagaimana hidung takkan kembang awak pandir dijadikan ketua | Bagaimana kidung takkan kembang Hendak kehilir ditahan kera Bagaimana hidung takkan kembang Awak pandir dijadikan ketua |
5. | yang besar si jalar-jalar yang besar disebut gelar yang kecil sigama-gama yang kecil disebut nama | Yang besar di sebut gelar Yang kecil sigama-gama Yang besar di sebut gelar Yang kecil disebut nama |