Sistem Pencernaan Pada Binatang Memamah Biak
Tuesday, July 7, 2020
Edit
Hewan pemamah biak disebut juga binatang ruminansia. Alat-alat pencernaan binatang ruminansia terdiri atas mulut, esofagus, rumen (perut besar), retikulum (perut jala), omasum (perut buku), abomasum (perut sebenarnya), usus halus, kolon, rektum, dan anus. Susunan gigi pada binatang berbeda dengan susunan gigi pada manusia. Hewan ruminansia hanya mempunyai gigi seri dan geraham. Sistem pencernaan binatang ruminansia dikategorikan sebagai salah satu sistem pencernaan binatang yang cukup unik. Berbeda dengan sistem pencernaan pada binatang karnivora dan omnivora, hewan-hewan ruminansia murni menyerupai sapi, kambing, kelinci, dan domba sanggup mengunyah makanannya sampai dua fase.
Hewan ruminansia atau binatang memamah biak termasuk binatang yang unik. Mereka sanggup mengunyah atau memamah makanannya yang berupa flora (rumput) melalui dua fase. Fase pertama masakan hanya dikunyah sebentar dan masih kasar. Makanan tersebut kemudian disimpan dalam rumen lambung. Selang beberapa waktu ketika lambung sudah penuh, mereka kemudian mengeluarkan masakan yang dikunyahnya tadi untuk dikunyah kembali sampai teksturnya lebih halus. Setelah halus, masakan tersebut masuk ke dalam rumen lambung lagi.
Saluran Sistem Pencernaan Hewan Ruminansia
Jenis makanannya binatang ruminansia berupa rumput atau tumbuh-tumbuhan yang tersusun atas selulosa yang sulit dicerna, binatang ruminansia mempunyai kanal sistem pencernaan khusus. Organ-organ pada kanal sistem pencernaan binatang ruminansia telah menyesuaikan diri sesuai dengan jenis masakan alaminya. Saluran pencernaan pada binatang ruminansia antara lain sebagai berikut.
1. Rongga Mulut (Cavum Oris)
Dalam rongga lisan binatang ruminansia, terdapat dua organ sistem pencernaan yang mempunyai fungsi penting, yaitu gigi dan lidah. Gigi ruminansia berbeda dengan susunan gigi mamalia lain. Gigi seri (insisivus) mempunyai bentuk yang sesuai untuk menjepit masakan berupa rumput, gigi taring (caninus) tidak berkembang sama sekali, sedangkan gigi geraham belakang (molare) mempunyai bentuk datar dan lebar. Pada rongga lisan binatang memamah biak juga terdapat pengecap untuk membantu mengatur letak masakan dan menelan. Selain itu, pengecap juga berkhasiat untuk merenggut makanannya.
1. Rongga Mulut (Cavum Oris)
Dalam rongga lisan binatang ruminansia, terdapat dua organ sistem pencernaan yang mempunyai fungsi penting, yaitu gigi dan lidah. Gigi ruminansia berbeda dengan susunan gigi mamalia lain. Gigi seri (insisivus) mempunyai bentuk yang sesuai untuk menjepit masakan berupa rumput, gigi taring (caninus) tidak berkembang sama sekali, sedangkan gigi geraham belakang (molare) mempunyai bentuk datar dan lebar. Pada rongga lisan binatang memamah biak juga terdapat pengecap untuk membantu mengatur letak masakan dan menelan. Selain itu, pengecap juga berkhasiat untuk merenggut makanannya.
Gigi seri hanya terdapat pada rahang bawah. Gerakan rahang yang terlihat ke kiri dan ke kanan yakni gerakan menggilas makanan. Bentuk geraham lebar, datar pada permukaan, dan kuat. Di antara gigi seri dan geraham terdapat ruang yang tidak ditumbuhi gigi. Ruang itu disebut diasterna. Melalui diasterna inilah sapi, kerbau, atau kambing menjulurkan lidahnya merenggut rumput. Makanan tersebut tidak dikunyah, tetapi pribadi ditelan masuk ke perut (perut besar).
2. Kerongkongan (Esofagus)
Esofagus atau kerongkongan merupakan kanal organ penghubung antara rongga lisan dan lambung. Pada kanal ini, masakan tidak mengalami proses pencernaan. Makanan hanya sekedar lewat sebelum kemudian digerus di dalam lambung. Esofagus pada binatang ruminansia umumnya berukuran sangat pendek yaitu sekitar 5 cm, namun lebarnya bisa membesar (berdilatasi) untuk menyesuaikan ukuran dan tekstur makanannya.
3. Lambung
Setelah melalui esofagus, masakan akan masuk ke dalam lambung. Lambung pada binatang ruminansia selain berperan dalam proses pembusukan dan peragian, juga berkhasiat sebagai kawasan penyimpanan sementara masakan yang akan dikunyah kembali. Ruangan lambung ruminansia dibedakan menjadi empat, yaitu perut besar (rumen), perut jala (retikulum), perut buku (omasum), dan perut masam (abomasum).
a. Rumen (Perut Besar)
Mula-mula masakan yang melalui kerongkongan akan masuk ke dalam rumen. Makanan ini secara alami telah bercampur dengan air ludah. Rumen berfungsi sebagai kawasan penyimpanan sementara bagi masakan yang telah ditelan. Setelah rumen terisi cukup makanan, sapi akan beristirahat sambil mengunyah kembali masakan yang dikeluarkan dari rumen ini.
b. Retikulum (Perut Jala)
Dari perut besar masakan diteruskan ke perut jala (retikulum). Perut besar, jala dan buku sebetulnya merupakan modifikasi kerongkongan (esofagus), sedangkan yang dimaksud dengan perut yang sebetulnya yakni perut masam (abomasum). Makanan yang masuk ke dalam retikulum akan diaduk-aduk dan dicampur dengan enzim-enzim tersebut sampai menjadi gumpalan-gumpalan garang (bolus). Pengadukan ini dilakukan dengan sumbangan kontraksi otot dinding retikulum. Gumpalan masakan ini kemudian didorong kembali ke rongga lisan untuk dimamah kedua kalinya dan dikunyah sampai lebih sempurna. Karena mengunyah masakan dua kali, ruminansia disebut binatang memamah biak. Proses ini biasa berlangsung pada ketika binatang sedang beristirahat.
Related:
Setelah gumpalan masakan yang dikunyah lagi itu ditelan kembali, mereka akan masuk ke omasum melewati rumen dan retikulum. Di dalam omasum, kelenjar enzim akan membantu penghalusan masakan secara kimiawi. Kadar air dari gumpalan masakan juga dikurangi melalui proses peresapan air yang dilakukan oleh dinding omasum. Pada bab perut ini kuman akan mati dan dicerna sebagai protein ruminansia.
d. Abomasum (Perut Masam)
Abomasum yakni perut yang sebetulnya alasannya yakni di organ inilah sistem pencernaan binatang ruminansia secara kimiawi bekerja dengan sumbangan enzim-enzim pencernaan. Di dalam abomasum, gumpalan masakan dicerna melalui sumbangan enzim dan asam klorida. Enzim yang dikeluarkan oleh dinding abomasum sama dengan yang terdapat pada lambung mamalia lain, sedangkan asam klorida (HCl) selain membantu dalam pengaktifan enzim pepsinogen yang dikeluarkan dinding abomasum, juga berperan sebagai desinfektan bagi kuman jahat yang masuk bersama dengan makanan.
Dalam perut abomasum terjadi fermentasi selulosa dengan sumbangan bakteri. Hasil fermentasinya berupa asam laktat, asam lemak, asam asetat, vitamin, dan gas. Hasil fermentasi tersebut sebagian diserap, sebagian gas diabsorpsi, kemudian dikeluarkan melalui paru-paru, dan ada pula yang dikeluarkan pada ketika sendawa melalui perut.
4. Usus Halus dan Anus
Hasil pencernaan dari abomasum masuk ke dalam usus dua belas jari dan masuk ke dalam usus halus. Di dalam usus halus terjadi penyerapan hasil pencernaan. Sisa masakan yang tidak diserap masuk ke usus besar, mengalami penyerapan air, dan pembusukan menjadi feses. Feses terkumpul di dalam rektum dan selanjutnya dikeluarkan melalui anus. Pada kuda dan kelinci proses pencernaan masakan juga terjadi simbiosis dengan kuman di dalam usus buntu. Bakteri ini membantu mencernakan selulosa.