Menata Struktur Teks Pantun
Tuesday, August 4, 2020
Edit
Struktur pantun yaitu bentuk atau pola yang membentuk susunan pantun, struktur pantun dibangun oleh dua aspek, yakni sampiran dan isi. Sampiran berfungsi sebagai pembentuk rima atau nada. Sampiran disebut juga sebagai pembayang alasannya yaitu pada pantun-pantun klasik sampiran kadang kala membayangkan isi. Sedangkan isi yaitu tujuan dari pantun itu sendiri. Sampiran terhadap isi tidak mempunyai korelasi makna. Karena kalau mempunyai korelasi makna tidaklah disebut sebagai pantun, melainkan hanya Syair bersajak.
Pantun terdiri atas dua bagian: sampiran dan isi. Sampiran merupakan dua baris pertama (baris 1 dan 2 pada pantun empat baris) pada pantun, kerap kali berkaitan dengan alam (mencirikan budaya agraris masyarakat pendukungnya), dan biasanya tak punya korelasi dengan bab kedua yang memberikan maksud selain untuk mengantarkan rima/sajak. Dua baris terakhir pantun (baris 3 dan 4 pada pantun empat baris) merupakan isi, yang merupakan tujuan dari pantun tersebut.
Karmina dan talibun merupakan bentuk pengembanga pantun, dalam arti karmina dan talibun mempunyai bab sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun dalam bentuk pendek alasannya yaitu hanya terdiri dari dua baris, sedangkan talibun yaitu pantun dalam bentuk yang lebih panjang alasannya yaitu terdiri dari enam baris atau lebih.
Perhatikan pola pantun di bawah ini :
Dari rangkaian teks pantun di atas, sanggup dilihat kemahiran pelantunnya dalam pemilihan kata yang digunakan. Pemilihan dan penyusunan kata yang dilakukan sedemikan rupa dengan menawarkan rima dan ritme yang sepadan akan menghasilkan keindahan bunyi yang sempurna. Bila setiap kata dalam pantun saling dipertukarkan letaknya, atau diganti dengan kata lain dengan makna yang sama, niscaya akan menjadikan kekacauan bunyi.
Karmina dan talibun merupakan bentuk pengembanga pantun, dalam arti karmina dan talibun mempunyai bab sampiran dan isi. Karmina merupakan pantun dalam bentuk pendek alasannya yaitu hanya terdiri dari dua baris, sedangkan talibun yaitu pantun dalam bentuk yang lebih panjang alasannya yaitu terdiri dari enam baris atau lebih.
Perhatikan pola pantun di bawah ini :
Pokok pakis tumbuh di hutan,(sampiran)Pada pantun di atas sanggup diketahui beberapa hal sebagai berikut :
tumbang melepa di atas duri.(sampiran)
Pulau menangis kering lautan,(isi)
ikan juga menghempas diri.(isi)
- Baris pertama dan kedua berupa sampiran
- Baris ketiga empat berupa isi
- Bunyi final pada baris pertama sama dengan suara final pada baris ketiga (n), suara final pada baris kedua sama dengan baris ketiga (i)
Dari rangkaian teks pantun di atas, sanggup dilihat kemahiran pelantunnya dalam pemilihan kata yang digunakan. Pemilihan dan penyusunan kata yang dilakukan sedemikan rupa dengan menawarkan rima dan ritme yang sepadan akan menghasilkan keindahan bunyi yang sempurna. Bila setiap kata dalam pantun saling dipertukarkan letaknya, atau diganti dengan kata lain dengan makna yang sama, niscaya akan menjadikan kekacauan bunyi.
Berikut ini, akan diberikan beberapa sampiran dan isi yang merupakan bab dari beberapa bait teks pantun empat larik. Akan tetapi, semua sampiran dan isi itu belum membentuk satu kesatuan stanza yang utuh. Stanza yaitu sajak delapan seuntai yang setiap baitnya terdiri atas delapan buah kalimat. Stanza disebut juga oktaf. Persajakan stanza atau oktaf tidak berurutan.
No. | Sampiran | Isi |
1. | Kalau kayu hendak berbuah | Indah tampan alasannya yaitu budi |
2. | Telah masak buah mengkudu | Siang malam selalu terbayang |
3. | Hari gelap naik ke rumah | Pantun jangan dibuang-buang |
4. | Riga-riga di Pulau Angsa | Bila hilang tukang pantun |
5. | Tingkap papan kayu persegi | Budi tuan saya tak lupa |
6. | Terbit bunga pucuk pun mati | Kalau Melayu hendak bertuah |
7. | Bila siang orang berkebun | Hati risau bercampur rindu |
8. | Daunnya jangan dicincang-cincang | Habislah lesap petuah amanah |
9. | Masak pula buah kepayang | Tinggi bangsa alasannya yaitu bahasa |
10. | Tanam mumbang tumbuh kelapa | Sudah terpaku di dalam hati |
Related:
No. | Sampiran | No. | Isi |
1. | Bila siang orang berkebun Hari gelap naik ke rumah Bila hilang tukang pantun Habislah lesap petuah amanah | 2. | Kalau kayu hendak berbuah Daunnya jangan dicencang-cencang Kalau Melayu hendak bertuah Pantun jangan dibuang-buang |
3. | Telah masak buah mengkudu masak pula buah kepayang hati risau bercampur rindu siang malam mabuk kepayang | 4. | Tingkap papan kayu persegi Riga-riga di pulau Angsa Indah tampan alasannya yaitu budi inggi bangsa alasannya yaitu bahasa |
5. | Tanam mumbang tumbuh kelapa terbit bunga pucuk pun mati tinggi bangsa alasannya yaitu bahasa indah tampan alasannya yaitu budi |
Keindahan pantun bukan hanya terletak pada pilihan kata serta kalimat – kalimatnya yang indah, tetapi lebih dari itu yaitu pada makna dan filosofi yang terkandung di dalamnya. Sungguh disayangkan, perubahan zaman telah menciptakan keberadaan syair dan pantun menjadi surut. Secara sosial pantun mempunyai fungsi pergaulan yang kuat, terutama dikalangan pemuda. Namun, masyarakat semakin usang menjadi semakin individualistis dan disibukkan dengan aneka macam upaya memenuhi kebutuhan hidup yang semakin kompleks. Pantun – pantun semakin usang semakin jarang diperdengarkan, sehingga tidak banyak lagi orang yang jago menyusun dan melantunkannya.