Alat Indra Pada Manusia
Tuesday, July 7, 2020
Edit
Panca indera merupakan organ yang mempunyai sel-sel reseptor khusus untuk peka terhadap perubahan lingkungan. Panca indera yang pada manusia, yaitu indera penglihatan (mata), indera pendengaran (telinga), indera penciuman (hidung), indera peraba (kulit), dan indera perasa (lidah). Bagian-bagian yang bertugas mendapatkan rangsang dari sistem saraf itu disebut reseptor. Reseptor merupakan sel saraf sensorik (penerima rangsang) yang tersebar di seluruh permukaan tubuh dan menjadi satu membentuk alat indra. Karena kelima indera mempunyai reseptor terhadap keadaan lingkungan luar, maka disebut ekstoreseptor..
Setiap reseptor yang membentuk alat indra hanya mendapatkan salah satu jenis perubahan yang terdeteksi dari lingkungannya. Itulah sebabnya, kumpulan reseptor yang membentuk alat indra, diberi nama menurut jenis stimulus yang diterimanya. Beberapa reseptor (sel saraf sensorik) yang membentuk alat indra itu, antara lain berikut :Fotoreseptor, sel saraf sensorik peserta rangsang cahaya, Kemoreseptor, sel saraf sensorik peserta rangsang zat kimia, Thermoreseptor, sel saraf sensorik peserta rangsang suhu, Mekanoreseptor, peserta rangsang fisik berupa tekanan, sentuhan, dan getaran.
Kelompok reseptor yang termasuk eksteroseptor ini, yaitu sel-sel saraf sensorik yang terdapat pada mata, telinga, kulit, lidah, dan hidung, sedangkan kelompok reseptor yang mendapatkan stimulus (rangsang) dari dalam lingkungannya disebut interoseptor. Kelompok reseptor yang termasuk interoseptor yaitu sel-sel saraf yang mendapatkan rangsang tekanan darah dan rasa lapar.
1. Kulit sebagai Indra Perasa
Pada kulit terdapat reseptor yang sensitif terhadap rangsangan raba, tekanan, panas, dingin, dan nyeri. Reseptor ini sanggup berupa ujung saraf yang bebas, ujung-ujung saraf yang berbenjol, atau ujung saraf yang diselubungi kapsul jaringan ikat. Umumnya, setiap jenis reseptor hanya mempunyai fungsi yang khusus, yaitu mendapatkan satu jenis rangsang saja.
Pada kulit terdapat aneka macam tipe rasa dan jenis reseptor, antara lain:
- Reseptor Sentuhan. Pada kulit reseptor sentuhan, yang disebut korpuskulus/badan meisner, terletak di belahan bawah lapisan epidermis. Reseptor sentuhan untuk membedakan rasa halus, kasar, lunak, dan keras. Reseptor lain pada kulit, juga ditemukan pada pangkal rambut yaitu berupa pesan arah gerakan rambut yang disebabkan tiupan angin atau akhir adanya sentuhan. Reseptor sentuhan tersebar tidak merata pada kulit sehingga ada belahan yang sangat peka terhadap rangsang sentuhan, ada pula belahan yang kurang begitu peka. Reseptor sentuhan banyak terdapat pada belahan ujung jari tangan dan kaki, serta pada belahan telapak tangan dan kaki.
- Reseptor Tekanan. Reseptor tekanan terdiri dari korpuskulus vater dan tubuh pacini. Reseptor tekanan merupakan ujung saraf yang letaknya di sebelah belahan dalam kulit yang disebut dermis. Ujung sel saraf reseptor ini hanya sanggup terangsang apabila terjadi tekanan dan getaran yang cukup kuat.
- Reseptor Rasa Sakit. Reseptor yang berfungsi untuk mendapatkan rangsangan rasa sakit terdapat pada lapisan epidermis dan dermis. Reseptor ini tersebar tidak merata pada belahan kulit tubuh insan sehingga ada belahan kulit yang kurang peka terhadap rasa sakit. Reseptor ini sangat berkhasiat untuk sistem pertahanan tubuh, lantaran sanggup memperlihatkan pesan apabila terjadi rangsangan berupa rasa sakit yang merusak organ tubuh.
- Reseptor Suhu. Pada kulit tubuh insan juga ditemukan reseptor untuk mendapatkan pesan berupa rasa panas dan dingin. Reseptor ini disebut juga termoreseptor. Reseptor ini terdiri atas korspukulus tubuh ruffini yang mencicipi rasa panas dan ujung saraf krause yang mencicipi suhu dingin. Kemampuan cepat dan lambatnya reseptor juga sangat dipengaruhi ketika mendapatkan atau melepaskan panas. Suasana panas gres sanggup dirasakan apabila reseptor berpindah dari kondisi dingin, sedangkan suasana hirau taacuh gres sanggup dirasakan apabila gres berpindah dari kondisi yang panas.
2. Lidah (Indra Pengecap)
Pada pengecap insan terdapat aneka macam reseptor yang fungsinya berbeda-beda, ibarat reseptor yang peka terhadap rasa sakit, sentuhan, dan mengecap aneka macam rasa. Reseptor untuk mendapatkan aneka macam rasa pada pengecap merupakan reseptor yang bersifat khusus. Pada lidah, reseptor-reseptor rasa itu disebut kuncup rasa yang merupakan reseptor yang sangat peka terhadap adanya rangsang yang berupa zatzat kimia (kemoreseptor).
Kuncup pengecap yang terdapat pada celah-celah tonjolan pengecap disebut papila. Papila pengecap sanggup anda rasakan sebagai tonjolan-tonjolan yang tidak teratur pada permukaan lidah. Setiap kuncup pengecap pengecap mempunyai kepekaan yang berbeda-beda terhadap rasa. Kuncup pengecap yang terdapat pada permukaan ujung pengecap mencicipi bagus dan asin. Bagian pangkal pengecap mencicipi pahit, sedangkan pada belahan samping permukaan pengecap (kiri dan kanan) mencicipi asam.
Menurut bentuknya papila dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
Menurut bentuknya papila dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu:
- Papila filiformis. Papila filiformis berbentuk benang halus, banyak terdapat pada belahan depan lidah.
- Papila fungiformis. Papila fungiformis berbentuk tonjolan ibarat kepala jamur, banyak terdapat pada belahan depan pengecap dan belahan sisi lidah.
- Papila sirkum valata. Papila sirkum valata berbentuk bulat, tersusun ibarat karakter V terbalik di belakang lidah.
3. Hidung (Indra Pencium)
Di dalam rongga hidung belahan atas terdapat ujung-ujung sel saraf pembau. Ujung-ujung sel saraf pembau ini dilengkapi dengan rambut-rambut halus pada belahan ujungnya dan diliputi lapisan lendir sebagai pelembab. Daerah yang sensitif terhadap indera penciuman terletak di belahan atas rongga hidung.
Ujung-ujung sel saraf pembau di dalam rongga hidung dilapisi cairan tipis. Rangsangan berupa bau sanggup diterima apabila telah larut dalam cairan tersebut. Di samping itu, ujung-ujung sel saraf pembau di dalam rongga hidung sangat peka terhadap rangsangan zat-zat kimia yang berupa gas atau uap (kemoreseptor). Proses terjadinya bau, mula-mula zat kimia terbawa oleh udara masuk ke dalam rongga hidung. Setelah larut dalam selaput lendir kemudian diterima dan dibawa oleh saraf pembau ke otak untuk diterjemahkan. Dengan demikian, gas yang masuk tadi sanggup terdeteksi.
Indra pembau pada insan peka terhadap aneka macam macam bau, ibarat bau anyir, wangi, busuk, dan bau yang lainnya. Anesmia ialah kehilangan rasa bau akibat:
- Penyumbatan rongga hidung, contohnya pilek, terdapat polip atau tumor di rongga hidung.
- Sel rambut rusak pada nanah kronis.
- Gangguan pada saraf I, bulbus dan traktus olfaktorius atau korteks otak.
4. Telinga (Indra Pendengar)
Telinga merupakan indera pendengaran. Telinga terdiri atas tiga bagian, yaitu belahan pendengaran luar, pendengaran tengah, dan pendengaran dalam. Telinga belahan luar terdiri atas daun pendengaran dan liang pendengaran yang berfungsi untuk membantu menangkap rangsang berupa getaran gelombang bunyi yang terbawa bersama udara di sekitarnya. Pada pendengaran belahan tengah terisi oleh udara, dan pendengaran belahan dalam terisi oleh cairan limfa.
a. Telinga Bagian Luar
Telinga belahan luar berfungsi menampung getaran dan meneruskannya ke pendengaran belahan tengah. Telinga belahan luar terdiri atas beberapa bagian, yaitu daun pendengaran (pinnae), kanal pendengaran luar (liang telinga), dan gendang telinga.
- Daun telinga. Daun pendengaran atau pinnae merupakan belahan tipis pada pendengaran yang bentuknya ibarat corong.
- Lubang dan kanal pendengaran luar. Telinga belahan ini merupakan kanal pendek. Pada permukaannya dilengkapi oleh rambut-rambut. Sepanjang kanal ini menghasilkan semacam zat lilin yang berfungsi untuk mencegah masuknya benda asing, ibarat debu atau hewan.
- Gendang telinga. Gendang pendengaran yaitu belahan pendengaran luar yang berupa membran atau selaput tipis.
b. Telinga Bagian Tengah (rongga timpani)
Getaran yang berasal dari gendang telinga, disalurkan melalui pendengaran belahan tengah. Selain itu, pendengaran tengah juga berfungsi sebagai alat pengatur keseimbangan tubuh, ibarat mengatur keseimbangan tekanan udara luar dan tekanan udara yang terdapat di dalam telinga.
Penerus getaran pada pendengaran belahan tengah yaitu tulang-tulang pendengaran yang terdiri atas tulang martil (malleus), tulang landasan (incus), dan tulang sanggurdi (stapes). Getaran akan diteruskan oleh tulang sanggurdi ke pendengaran belahan dalam yang disebut jendela oval. Di samping ketiga macam tulang juga terdapat kanal eustachius. Dengan adanya kanal eustachius ini, keadaan tekanan udara di dalam pendengaran dan tekanan udara luar sanggup disetarakan.
c. Telinga Bagian Dalam
Pada pendengaran belahan dalam terdapat sederetan ruang dan kanal yang berisi cairan. Telinga belahan dalam ini terbagi menjadi dua belahan dengan fungsi yang berbeda. Pada belahan atas pendengaran dalam terdapat tiga kanal setengah lingkaran yang berfungsi untuk alat keseimbangan, sedangkan di belahan bawah pendengaran dalam terdapat kanal berupa rumah siput (koklea). Di dalam koklea terdapat sel-sel saraf sensoris yang dihubungkan ke otak oleh saraf pendengaran.
Related:
5. Mata (Indra Penglihatan)
Mata berfungsi sebagai alat pengenal warna maupun bentuk. Hal ini dimungkinkan dengan reseptor khusus cahaya yang disebut fotoreseptor. Setiap mata mempunyai suatu lapisan reseptor, yaitu lensa untuk memfokuskan cahaya pada reseptor cahaya, dan sel-sel saraf untuk menghantarkan impuls dari reseptor ke otak.
Retina mata tersusun oleh kurang lebih 125 juta sel batang (sel basilus) yang bisa mendapatkan rangsang cahaya yang tidak berwarna, dan kurang lebih 6,5 juta sel kerucut (sel konus) yang bisa mendapatkan rangsang sinar yang berwarna.
Pada sel batang terdapat pigmen yang peka terhadap rangsang cahaya, disebut rodopsin, yaitu bentuk persenyawaan antara vitamin A dengan suatu protein. Rodopsin akan tetapi jikalau terkena sinar terang, sedangkan dalam keadaan yang gelap rodopsin akan terbentuk kembali. Pada proses terbentuknya rodopsin diharapkan waktu penyesuaian rodopsin. Pada ketika adaptasi, mata kurang sanggup melihat dengan jelas.
Pada sel kerucut juga terdapat pigmen yang disebut iodopsin yaitu sejenis pigmen yang terbentuk dari persenyawaan retinin dan opsin. Terdapat tiga macam sel kerucut yang masing-masing peka terhadap rangsang warna merah, hijau, dan biru. Dari kombinasi ketiga warna itu, kita sanggup mendapatkan spektrum warna ungu sampai merah. Apabila sel kerucut mengalami kerusakan orang yang mengalaminya akan menderita buta warna.
Ada dua macam jenis buta warna, yaitu dikromat dan monokromat. Buta warna dikromat hanya mempunyai dua sel kerucut dan penderitanya disebut menderita buta warna sebagian. Karena hanya sanggup melihat kombinasi spektrum dua warna saja, sedangkan buta warna monokromat yaitu orang yang hanya sanggup membedakan warna hitam dan putih atau bayangan kelabu.
Apabila mata kita melihat suatu benda yang jaraknya dekat, otot siliaris mata kita akan berkontraksi. Lensa akan menebal untuk sanggup menangkap cahaya yang masuk ke dalam mata sehingga objek yang erat sanggup difokuskan pada retina. Berbeda halnya ketika mata kita melihat objek benda yang jaraknya jauh, otot siliaris mata justru akan berelaksasi. Lensa mata menjadi pipih dan objek akan difokuskan pada retina, ibarat diperlihatkan pada gambar.
Mencembung dan mencekungnya lensa mata sanggup mengalami perubahan. Proses mencembung dan mencekungnya mata disebabkan kontraksi dan relaksasi otot-otot ligamen (badan siliaris) yang menempel pada bola mata. Dengan kemampuan lensa mata untuk mencembung dan mencekung maka fokus lensa mata dengan sendirinya sanggup berubah-ubah. Kemampuan mata ibarat itu disebut daya fasilitas lensa mata.
Mata dikatakan normal apabila sanggup memfokuskan sinar-sinar sejajar yang masuk ke mata. Sinar-sinar sejajar itu akan membentuk bayangan benda di retina (bintik kuning) sehingga benda yang dilihat akan terlihat jelas. Keadaan ibarat itu disebut dengan istilah emetrop.. Kelainan pada mata sanggup menimbulkan gangguan pada penglihatan. Terdapat beberapa kelainan yang terjadi pada mata antara lain sebagai berikut.
- Mata Tua (Presbiopi). Presbiopi yaitu kelainan mata yang terjadi sebagai akhir tidak lenturnya lensa mata. Hal itu mengakibatkan daya fasilitas lensa mata sangat sulit menangkap objek yang jauh maupun erat sehingga bayangan benda yang dibuat tidak jatuh sempurna pada retina. Kelainan mata presbiopi sanggup dibantu memakai kacamata berlensa mata rangkap dua.
- Rabun Dekat (Hipermetropi). Pada gangguan mata hipermetropi keadaan retinanya lebih pendek dari jarak normalnya. Hal tersebut mengakibatkan bayangan benda yang dibuat lensa mata tidak terfokus jatuh sempurna pada retina, tetapi jatuh di belakang retina. Gangguan mata hipermetropi sanggup dibantu dengan kacamata lensa cembung atau lensa positif.
- Miopi (Rabun Jauh). Penyebab kelainan mata miopi lantaran bola mata berbentuk lonjong dan lebih panjang dari keadaan normalnya sehingga dengan keadaan ibarat itu, jarak antara lensa mata dan retina menjadi lebih jauh. Hal ini menimbulkan bayangan yang dibuat jatuh di depan retina. Gangguan mata miopi sanggup dibantu dengan memakai kacamata berlensa cekung atau lensa negatif.
- Astigmatisma. Astigmatisma terjadi lantaran bentuk lengkungan pada permukaan kornea tidak merata. Garis-garis vertikal dan horizontal tidak sanggup difokuskan secara simultans. Kelainan mata astigmatisma sanggup dibantu dengan memakai kacamata berlensa silindris.