Memecahkan Duduk Perkara Dalam Teks Eksplanasi
Thursday, July 30, 2020
Edit
Teks Eksplanasi yakni teks yang bertujuan menjelaskan proses terjadinya suatu fenomena baik fenomena alam maupun fenomena sosial. Salah satu fenomena sosial yang pernah terjadi di negara kita yakni menurunya nilai tukar rupiah. Melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika menjadikan terjadinya keresahan dalam masyarakat. Pelemahan itu sanggup berdampak pada kenaikan harga kebutuhan pokok dan materi bakar minyak. Pada pola teks tersebut tidak hanya diemukan teks eksplanasi, tetapi juga teks eksposisi. Eksposisi yakni teks atau karangan yang terkandung sejumlah isu dan pengetahuan yang disajikan secara singkat, padat, dan akurat. Perhatikan pola teks di bawah ini.
Rupiah akan Bertahan
Nilai tukar rupiah yang melemah sekitar 14% sepanjang tahun 2013 menciptakan pemerintah, swasta, dan masyarakat waswas. Kekhawatiran ini wajar, lantaran Indonesia punya pengalaman pahit ketika nilai tukar rupiah terpuruk tajam. Saat krisis keuangan melanda Asia Tenggara dan Asia Timur pada 1997, nilai tukar rupiah pernah menyentuh angka Rp17.000,00 per dolar Amerika. Banyak perusahaan terpaksa dipindahtangankan kepemilikannya, lantaran utang luar negeri yang mereka miliki membelit kesehatan keuangan perusahaan.
Krisis keuangan itu juga berimbas ke krisis politik, menjadikan pergantian kepemimpinan nasional, dan krisis sosial. Belajar dari pengalaman pahit ini, pemerintah tentu tak mau kejadian jelek itu terulang. “Saya melihat kondisi kini berbeda jauh dari keadaan 15 tahun lalu, lantaran tidak ada kepentingan politik di balik pelemahan rupiah kini ini,” kata Mohammad “Bob” Hasan, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
Hanya saja, Bob Hasan menambahkan, pemerintah harus hati-hati, lantaran kali ini Indonesia menghadapi empat defisit secara bersamaan. Yaitu defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan, defisit pembayaran, serta defisit anggaran pendapatan dan belanja negara. “Belum pernah kita mengalami empat defisit secara bersamaan menyerupai kini ini,” katanya.
Namun masyarakat dan pemerintah, kata Bob Hasan, tak perlu panik, lantaran Indonesia mempunyai banyak modal untuk bisa bertahan. Pertama yakni pasar dalam negeri yang kuat. Indonesia tak hanya mempunyai jumlah penduduk yang besar, melainkan juga mempunyai lebih dari 100 juta penduduk
yang punya daya beli kuat.
Hal kedua yang merupakan kekuatan Indonesia yakni sumber daya alam yang bisa diolah. “Kita mempunyai lahan yang bisa dikembangkan untuk pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Kita mempunyai maritim yang luas yang bisa digarap. Kita mempunyai sumber daya mineral yang cukup banyak,” ujarnya.
Indonesia juga mempunyai alam yang lebih dekat dibandingkan dengan negara lain. Korea Selatan, Jepang, atau Hong Kong, misalnya, tidak mempunyai sumber daya alam sebanyak Indonesia. Hampir setiap ketika mereka diganggu oleh petaka menyerupai topan dan angin puting-beliung besar, yang menciptakan mereka
bahkan tidak bisa keluar rumah.
Indonesia beruntung tidak mengalami gangguan alam menyerupai itu. Sesekali terjadi gempa bumi di suatu daerah, tetapi tidak menyerupai bangsa Jepang atau Korea Selatan yang hampir seluruh negerinya tidak bisa melaksanakan apa-apa ketika angin topan menerjang negara mereka.
Kalau bangsa Jepang, Korea, dan Hong Kong bisa keluar dari terpaan bencana, Indonesia tentu juga bisa menghadapi krisis. Termasuk krisis keuangan yang sedang terjadi ketika ini. “Saya yakin rupiah akan bertahan, dan kita akan bisa memperkuat perekonomian kita,” katanya.
Pelemahan nilai tukar justru merupakan momentum untuk memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan ekspor. “Kita harus berguru dari Jepang yang justru bergembira ketika nilai yen melemah,” kata Bob Hasan. Barangbarang produksi Jepang menjadi lebih kompetitif di pasar dan perusahaan Jepang eksklusif menerima untung dari besarnya depresiasi nilai tukar yang terjadi. Kalau nilai yen melemah, dari 90 yen menjadi 120 yen per dolar Amerika, perusahaan Jepang otomatis mengantongi untung 25% dari perubahan kurs.
Perusahaan-perusahaan Indonesia yang berorientasi ekspor tentu menikmati laba dari pelemahan rupiah menyerupai kini ini. Bahkan para petani perkebunan bersyukur atas harga dalam denominasi rupiah yang menjadi lebih tinggi. Inilah yang juga terjadi pada 1998, ketika para petani perkebunan menikmati laba besar.
Memang yang akan memberatkan yakni barang-barang kebutuhan yang berasal dari impor. Harga susu untuk bayi, misalnya, menjadi lebih mahal. Padahal, susu diharapkan untuk pembentukan otak bayi.
Secara keseluruhan, kalau Indonesia bisa memperkuat struktur ekonomi dan industri dalam negeri, keadaan kini ini bisa dijadikan sebagai modal untuk maju. “Saya mendukung langkah pemerintah untuk menghemat devisa dengan mengurangi impor yang tidak perlu,” katanya.
Saat ini bisa dilihat banyaknya kendaraan beroda empat yang terlalu glamor dipakai masyarakat. Mobil menyerupai Rolls Royce, Bentley, dan Ferrari merupakan sesuatu yang tidak diharapkan ketika ini. Namun Indonesia menjadi konsumen terbesar kedua di dunia sesudah Cina untuk mobil-mobil menyerupai itu.
Langkah pemerintah menaikkan lebih tinggi bea masuk untuk barang-barang yang supermewah menyerupai itu merupakan kebijakan yang tepat. “Kalau perlu, kenaikan bea masuk 200% biar bangsa Indonesia bisa lebih efisien dalam memakai devisa yang dimiliki,” ujarnya.
Satu hal yang perlu dijaga yakni kemungkinan meningkatnya penyelundupan. Sebagai negara dengan luas pantai terpanjang di dunia, terlalu banyak pelabuhan yang bisa menjadi pintu masuk bagi barang selundupan. Karena itu, akan baik jikalau petugas Bea dan Cukai sebagian dipindahkan untuk mengawasi mal-mal. “Bea dan Cukai bisa mengenakan hukuman kepada toko-toko yang menjual barang impor yang tidak membayar bea masuk,” kata Bob Hasan.
Hal lain yang mesti diperhatikan pemerintah yakni pengamanan pangan, khususnya yang bersumber dari impor menyerupai kedelai. Bahan baku tahu dan tempe ini harus dijaga biar harganya tak melambung. Sehingga harga tahu dan tempe, yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetap terjangkau. (Sumber: Gatra no. 43 tahun XIX 29 Agustus-4 September 2013 halaman 1)
Perbedaan Eksplanasi dan Eksposisi
Pada teks di atas tidak hanya menemukan teks eksplanasi, tetapi juga teks eksposisi. Perbedaan struktur teks eksplanasi dengan teks eksposisi antara lain sebagai berikut.
Nilai tukar rupiah yang melemah sekitar 14% sepanjang tahun 2013 menciptakan pemerintah, swasta, dan masyarakat waswas. Kekhawatiran ini wajar, lantaran Indonesia punya pengalaman pahit ketika nilai tukar rupiah terpuruk tajam. Saat krisis keuangan melanda Asia Tenggara dan Asia Timur pada 1997, nilai tukar rupiah pernah menyentuh angka Rp17.000,00 per dolar Amerika. Banyak perusahaan terpaksa dipindahtangankan kepemilikannya, lantaran utang luar negeri yang mereka miliki membelit kesehatan keuangan perusahaan.
Krisis keuangan itu juga berimbas ke krisis politik, menjadikan pergantian kepemimpinan nasional, dan krisis sosial. Belajar dari pengalaman pahit ini, pemerintah tentu tak mau kejadian jelek itu terulang. “Saya melihat kondisi kini berbeda jauh dari keadaan 15 tahun lalu, lantaran tidak ada kepentingan politik di balik pelemahan rupiah kini ini,” kata Mohammad “Bob” Hasan, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
Hanya saja, Bob Hasan menambahkan, pemerintah harus hati-hati, lantaran kali ini Indonesia menghadapi empat defisit secara bersamaan. Yaitu defisit perdagangan, defisit transaksi berjalan, defisit pembayaran, serta defisit anggaran pendapatan dan belanja negara. “Belum pernah kita mengalami empat defisit secara bersamaan menyerupai kini ini,” katanya.
Namun masyarakat dan pemerintah, kata Bob Hasan, tak perlu panik, lantaran Indonesia mempunyai banyak modal untuk bisa bertahan. Pertama yakni pasar dalam negeri yang kuat. Indonesia tak hanya mempunyai jumlah penduduk yang besar, melainkan juga mempunyai lebih dari 100 juta penduduk
yang punya daya beli kuat.
Hal kedua yang merupakan kekuatan Indonesia yakni sumber daya alam yang bisa diolah. “Kita mempunyai lahan yang bisa dikembangkan untuk pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Kita mempunyai maritim yang luas yang bisa digarap. Kita mempunyai sumber daya mineral yang cukup banyak,” ujarnya.
Indonesia juga mempunyai alam yang lebih dekat dibandingkan dengan negara lain. Korea Selatan, Jepang, atau Hong Kong, misalnya, tidak mempunyai sumber daya alam sebanyak Indonesia. Hampir setiap ketika mereka diganggu oleh petaka menyerupai topan dan angin puting-beliung besar, yang menciptakan mereka
bahkan tidak bisa keluar rumah.
Indonesia beruntung tidak mengalami gangguan alam menyerupai itu. Sesekali terjadi gempa bumi di suatu daerah, tetapi tidak menyerupai bangsa Jepang atau Korea Selatan yang hampir seluruh negerinya tidak bisa melaksanakan apa-apa ketika angin topan menerjang negara mereka.
Kalau bangsa Jepang, Korea, dan Hong Kong bisa keluar dari terpaan bencana, Indonesia tentu juga bisa menghadapi krisis. Termasuk krisis keuangan yang sedang terjadi ketika ini. “Saya yakin rupiah akan bertahan, dan kita akan bisa memperkuat perekonomian kita,” katanya.
Pelemahan nilai tukar justru merupakan momentum untuk memperkuat industri dalam negeri dan meningkatkan ekspor. “Kita harus berguru dari Jepang yang justru bergembira ketika nilai yen melemah,” kata Bob Hasan. Barangbarang produksi Jepang menjadi lebih kompetitif di pasar dan perusahaan Jepang eksklusif menerima untung dari besarnya depresiasi nilai tukar yang terjadi. Kalau nilai yen melemah, dari 90 yen menjadi 120 yen per dolar Amerika, perusahaan Jepang otomatis mengantongi untung 25% dari perubahan kurs.
Perusahaan-perusahaan Indonesia yang berorientasi ekspor tentu menikmati laba dari pelemahan rupiah menyerupai kini ini. Bahkan para petani perkebunan bersyukur atas harga dalam denominasi rupiah yang menjadi lebih tinggi. Inilah yang juga terjadi pada 1998, ketika para petani perkebunan menikmati laba besar.
Memang yang akan memberatkan yakni barang-barang kebutuhan yang berasal dari impor. Harga susu untuk bayi, misalnya, menjadi lebih mahal. Padahal, susu diharapkan untuk pembentukan otak bayi.
Secara keseluruhan, kalau Indonesia bisa memperkuat struktur ekonomi dan industri dalam negeri, keadaan kini ini bisa dijadikan sebagai modal untuk maju. “Saya mendukung langkah pemerintah untuk menghemat devisa dengan mengurangi impor yang tidak perlu,” katanya.
Saat ini bisa dilihat banyaknya kendaraan beroda empat yang terlalu glamor dipakai masyarakat. Mobil menyerupai Rolls Royce, Bentley, dan Ferrari merupakan sesuatu yang tidak diharapkan ketika ini. Namun Indonesia menjadi konsumen terbesar kedua di dunia sesudah Cina untuk mobil-mobil menyerupai itu.
Langkah pemerintah menaikkan lebih tinggi bea masuk untuk barang-barang yang supermewah menyerupai itu merupakan kebijakan yang tepat. “Kalau perlu, kenaikan bea masuk 200% biar bangsa Indonesia bisa lebih efisien dalam memakai devisa yang dimiliki,” ujarnya.
Satu hal yang perlu dijaga yakni kemungkinan meningkatnya penyelundupan. Sebagai negara dengan luas pantai terpanjang di dunia, terlalu banyak pelabuhan yang bisa menjadi pintu masuk bagi barang selundupan. Karena itu, akan baik jikalau petugas Bea dan Cukai sebagian dipindahkan untuk mengawasi mal-mal. “Bea dan Cukai bisa mengenakan hukuman kepada toko-toko yang menjual barang impor yang tidak membayar bea masuk,” kata Bob Hasan.
Hal lain yang mesti diperhatikan pemerintah yakni pengamanan pangan, khususnya yang bersumber dari impor menyerupai kedelai. Bahan baku tahu dan tempe ini harus dijaga biar harganya tak melambung. Sehingga harga tahu dan tempe, yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetap terjangkau. (Sumber: Gatra no. 43 tahun XIX 29 Agustus-4 September 2013 halaman 1)
Perbedaan Eksplanasi dan Eksposisi
Pada teks di atas tidak hanya menemukan teks eksplanasi, tetapi juga teks eksposisi. Perbedaan struktur teks eksplanasi dengan teks eksposisi antara lain sebagai berikut.
No. | Teks Eksposisi | Teks Eksplanasi |
1. | Eksposisi yakni teks atau karangan yang terkandung sejumlah isu dan pengetahuan yang disajikan secara singkat, padat, dan akurat. | Eksplanasi yakni teks yang bertujuan menjelaskan proses terjadinya suatu fenomena baik fenomena alam maupun fenomena sosial. |
2. |
|
|
3. | Tujuan teks eksposisi yakni pembaca menerima pengetahuan atau isu yang sejelas-jelasnya atau memaparkan sesuatu biar pengetahuan pembaca bertambah. | Tujuan teks eksplanasi yakni untuk menjelaskan sutu tanda-tanda atau proses pada insiden yang terjadi. baik itu insiden alam maupun insiden sosial. |
4. | Ciri-ciri teks eksposisi: Bersifat informatif Berusaha menjelaskan wacana suatu hal | Ciri-ciri teks eksplanasi: Memuat isu menurut faktual Memuat isu yang yang bersifat keilmuan |
A. Penanda Eksplanasi
Unsur yang terperinci mendukung bahwa teks Rupiah akan Bertahan sebagai teks eksplanasi lantaran teks tersebut mengandung struktur teks eksplanasi yaitu pernyataan umum wacana menurunnya rupiah dan unsur sebab-akibat. Sebab yang ditimbulkan dari penurunan nilai rupiah dan akibatnya. Hubungan alasannya yakni akhir sanggup dinyatakan dengan kategori nomina, verba, dan konjungsi.
- Hubungan alasannya yakni akhir sanggup juga dinyatakan dengan kategori nomina. Selain akibat, akibatnya, sebagai akibat, jadi dan hasilnya
- Hubungan Kausal yang Dinyatakan dengan Kategori Verba. Hubungan kausal yang dinyatakan dengan kategori verba menyerupai menyebabkan, menimbulkan, mengakibatkan, membuat, menjadikan, menyumbang. Contoh : Krisis keuangan itu juga berimbas ke krisis politik, mengakibatkan pergantian kepemimpinan nasional, dan krisis sosial.
- Hubungan Kausal yang Dinyatakan dengan Konjungsi . Hubungan alasannya yakni akhir sanggup juga dinyatakan dengan konjungsi menyerupai sebab, karena, akibat. Contoh : Banyak perusahaan terpaksa dipindahtangankan kepemilikannya, karena utang luar negeri yang mereka miliki membelit kesehatan keuangan perusahaan.
Konjungsi Eksternal dan Internal
Teks eksplanasi memakai konjungsi eksternal, yakni konjungsi yang menghubungkan dua peristiwa, deskripsi benda, atau kualitas di dalam klausa kompleks atau antara dua klausa simpleks.
Konjungsi Eksternal yaitu konjungsi yang menghubungkan dua peristiwa, deskripsi benda, atau kausalitas di dalam klausa kompleks atau antara dua klausa simpleks. Konjungsi eksternal banyak dipakai pada genre (jenis teks) : laporan, deskripsi, eksplanasi, rekonstruksi, dan prosedur. Hal tersebut dikarenakan kelima genre tersebut merupakan pengungkapan deskripsi insiden dan kualitas. Konjungsi eksternal sanggup diklasifikasikan menjadi empat kategori makna, yaitu :
- Penambahan (dan, atau). Contoh : Korea Selatan, Jepang, atau Hong Kong, misalnya, tidak mempunyai sumber daya alam sebanyak Indonesia.
- Perbandingan (tetapi, sementara)
- Waktu (setelah, sebelum, sejak, ketika). Contoh : Namun Indonesia menjadi konsumen terbesar kedua di dunia setelah Cina untuk mobil-mobil menyerupai itu
- Sebab akhir (sehingga, karena, sebab, jika, walaupun, meskipun). Contoh : Sehingga harga tahu dan tempe, yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia, tetap terjangkau.
Related:
Konjungsi Internal yaitu konjungsi yang menghubungkan argumen atau inspirasi yang terdapat di antara dua klausa simpleks atau dua kelompok klausa. Konjungsi internal banyak dipakai dalam genre (jenis teks) eksposisi, diskusi, atau eksploitasi. Hal ini terjadi lantaran ketiga genre tersebut secara utuh merupakan lisan pengungkapan gagasan dengan mengunakan argumentasi. Konjungsi eksternal sanggup diklasifikasikan menjadi empat kategori makna, yaitu :
- Penambahan (selain itu, di samping itu, lebih lanjut)
- Perbandingan (akan tetapi, sebaliknya, sementara itu, di sisi lain)
- Waktu (pertama, kedua…dst., kemudian, lalu, berikutnya)
- Sebab akhir (sebagai akibat, akibatnya, jadi, hasilnya)
Klausa
Klausa yakni satuan gramatikal yang berwujud kelompok kata, sekurang-kurangnya terdiri atas subjek dan predikat dan berpotensi menjadi kalimat.
Klausa Kompleks yaitu klausa yang terdiri atas lebih dari satu aksi, peristiwa, atau keadaan sehingga mempunyai lebih dari satu verba utama dalam lebih dari satu struktur. Struktur yang satu dengan struktur yang lainnya dihubungkan oleh konjungsi. Namun relasi itu sering ditunjukkan hanya dengan tanda baca koma ( , ) atau titik koma ( ; ) bahkan tidak ditunjukkan oleh tanda baca apa pun.
Contoh : Namun masyarakat dan pemerintah, kata Bob Hasan, tak perlu panik, lantaran Indonesia mempunyai banyak modal untuk bisa bertahan.
Klausa Simpleks yaitu klausa yang hanya terdiri atas satu verba utama yang menggambarkan aksi, insiden atau keadaan. Klausa simpleks hanya mengandung satu struktur : subjek-predikat-(pelengkap)-(keterangan). Unsur yang diletakkan di dalam kurung belum tentu ada dalam klausa.
Contoh : Indonesia beruntung tidak mengalami gangguan alam menyerupai itu.
Di dalam teks tersebut terkandung beberapa argumentasi yang merupakan pecahan dari unsur teks eskposisi. Selain argumentasi di dalam teks tersebut juga terdapat dua struktur lain yaitu Pernyataan pendapat (tesis) dan penegasan ulang.
Selain itu pada teks eksposisi biasanya memakai kata ganti atau pronomina, seperti: saya, kita dan kami.
- “Saya melihat kondisi kini berbeda jauh dari keadaan 15 tahun lalu, lantaran tidak ada kepentingan politik di balik pelemahan rupiah kini ini,” kata Mohammad “Bob” Hasan, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
- “Saya yakin rupiah akan bertahan, dan kita akan bisa memperkuat perekonomian kita,” katanya.
- “Saya mendukung langkah pemerintah untuk menghemat devisa dengan mengurangi impor yang tidak perlu,” katanya.
- “Kita harus berguru dari Jepang yang justru bergembira ketika nilai yen melemah,” kata Bob Hasan.
- “Belum pernah kita mengalami empat defisit secara bersamaan menyerupai kini ini,” katanya.
- “Kita mempunyai lahan yang bisa dikembangkan untuk pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Kita mempunyai maritim yang luas yang bisa digarap. Kita mempunyai sumber daya mineral yang cukup banyak,” ujarnya.
Teks eksposisi juga memakai verba yang menyatakan persepsi, seperti: yakin, optimis, dan potensial. Seperti pada kalimat “Saya yakin rupiah akan bertahan, dan kita akan bisa memperkuat perekonomian kita,” katanya.
Penanda Opini
Dapatkah kalian menemukan penanda opini pada teks tersebut! Sebutkan kata-kata apa saja yang mengatakan opini pada teks tersebut!
Beberapa pola kalimat yang merupakan opini dalam teks tersebut antara lain sebagai berikut.
- Opini tidak atau belum pasti. Hal ini ditandai dengan penggunaan kata-kata, menyerupai barangkali, mungkin, bisa jadi, boleh jadi, kira-kira, atau diperkirakan.
- Bersifat pengandaian. Kata yang biasa dipakai contohnya andaikan, seandainya, kalau, jika, jikalau, bila, bilamana, asal, atau asalkan.
- Pernyataan yang berupa saran, nasihat, atau usul. Kata yang dipakai biasanya kata keterangan, contohnya sebaiknya, alangkah baiknya, seharusnya, sesungguhnya, atau sebenarnya.
- Pernyataan yang mengadung subjektivitas pribadi. Kata yang digunakan, contohnya ingin, akan, mau, terasa atau mampu.
Beberapa pola kalimat yang merupakan opini dalam teks tersebut antara lain sebagai berikut.
- “Saya melihat kondisi kini berbeda jauh dari keadaan 15 tahun lalu, lantaran tidak ada kepentingan politik di balik pelemahan rupiah kini ini,” kata Mohammad “Bob” Hasan, mantan Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
- “Belum pernah kita mengalami empat defisit secara bersamaan menyerupai kini ini,” katanya.
- Namun masyarakat dan pemerintah, kata Bob Hasan, tak perlu panik, lantaran Indonesia mempunyai banyak modal untuk bisa bertahan.
- “Saya yakin rupiah akan bertahan, dan kita akan bisa memperkuat perekonomian kita,” katanya.
- “Kita mempunyai lahan yang bisa dikembangkan untuk pertanian, perkebunan, dan kehutanan. Kita mempunyai maritim yang luas yang bisa digarap. Kita mempunyai sumber daya mineral yang cukup banyak,” ujarnya.
- “Kalau perlu, kenaikan bea masuk 200% biar bangsa Indonesia bisa lebih efisien dalam memakai devisa yang dimiliki,” ujarnya.
- “Saya mendukung langkah pemerintah untuk menghemat devisa dengan mengurangi impor yang tidak perlu,” katanya.
- “Bea dan Cukai bisa mengenakan hukuman kepada toko-toko yang menjual barang impor yang tidak membayar bea masuk,” kata Bob Hasan.