Sistem Ekskresi Pada Hewan
Wednesday, July 8, 2020
Edit
Alat ekskresi pada insan dan binatang vertebrata pada umumnya terdiri dari ginjal, kulit, paru-paru, hati, dan anus. Setiap alat organ pengeluaran tersebut mempunyai fungsi tersendiri dan jenis zat sisa yang dikeluarkan pun diubahsuaikan dengan alat pengeluaran masing-masing. Ekskresi juga terjadi pada hewan, ibarat insekta, ikan, katak, ular, kadal, dan burung. Pada insekta alat ekskresinya ialah buluh malpighi, sedangkan alat ekskresi pada ikan ialah ginjal. Pada ikan, ginjal selain berfungsi sebagai alat ekskresi juga berfungsi sebagai alar kesinambungan air. Sistem ekskresi pada katak sama ibarat ikan, yaitu ginjal. Pada katak ginjal selain berfungsi sebagai alat ekskresi juga berfungsi untuk keseimbangan air dalam tubuh.
Sistem ekskresi pada binatang merupakan proses pengeluaran zat-zat yang sudah tidak berkhasiat lagi bagi badan binatang itu sendiri. Salah satu binatang yang termasuk golongan serangga ialah binatang belalang. Alat ekskresi pada belalang ialah pembuluh Malpighi, yaitu alat pengeluaran yang berfungsi ibarat ginjal pada vertebrata. Buluh malpighi ini berbentuk buluh-buluh halus berwarna kekuning-kuningan yang disebut tubulus malpighi. Pembuluh Malpighi terletak di antara usus tengah dan usus belakang. Seperti diperlihatkan pada gambar berikut.
Cara kerja buluh malpighi atau tubulus malpighi ialah dengan cara menyerap zat-zat yang terlarut dalam darah melalui dinding tubulus. Di dalam tubulus, cairan yang masuk diseleksi, zat yang bermanfaat diserap untuk dikembalikan ke darah termasuk air sampai tersisa limbah yang berbentuk padat, yaitu asam urat.
Tubulus malpighi tidak mempunyai kanal keluaran sehingga asam urat disalurkan ke usus belakang. Zat sisa metabolisme akan dibuang bersama feses untuk mencegah belalang kehilangan air dari dalam tubuhnya. Bentuk ekskresi ini tidak terdapat pada ekskresi binatang lain. Di samping pembuluh Malphigi, serangga juga mempunyai sistem trakea untuk mengeluarkan zat sisa hasil oksidasi yang berupa CO2. Sistem trakea ini berfungsi ibarat paru-paru pada vertebrata.
2. Sistem Ekskresi pada Ikan
Berdasarkan lingkungan daerah hidupnya terdapat dua jenis ikan, yaitu ikan maritim dan ikan air tawar. Perbedaan salinitas lingkungan daerah hidup ikan itu menjadikan perbedaan pada kerja ginjal dari masing-masing ikan. Pada ikan air tawar, lingkungan hipotonik menjadikan air masuk terus-menerus ke dalam tubuh. Agar terhindar dari pengenceran cairan tubuh, ginjal ikan harus bekerja keras mengeluarkan air ini dalam bentuk urin. Darah yang membawa air dan garam-garam akan memasuki kapsula Bowman melalui glomerulus. Pada kapsul bowman akan terjadi filtrasi. Zat-zat yang masih diperlukan diserap kembali oleh arteri oeritubuler yang mengelilingi tubulus.
Ikan mempunyai system ekskresi berupa ginjal dan suatu lubang pengeluaran yang disebut urogenital. Lubang urogenital ialah lubang daerah bermuaranya kanal ginjal dan kanal kelamin yang berada sempurna dibelakang anus. Pada ikan, eksresi tidak hanya berfungsi untuk mengeluarkan zat sisa, tetapi untuk mengatur juga keseimbangan cairan badan atau osmoregulasi. Osmoregulasi ikan air tawar berbeda dengan ikan air laut.
Ikan air tawar hidup di lingkungan hipotonis (konsentrasi air di dalam badan lebih rendah daripada konsentrasi air di luar tubuh). Oleh lantaran itu, ikan air tawar banyak mengekskresikan urin. Sebaliknya, ikan air maritim hidup di lingkungan hipertonis (konsentrasi air di dalam badan lebih tinggi daripada konsentrasi air di luar tubuh) sehingga ikan maritim sedikit mengekspresikan urin.
Ikan air tawar hidup di lingkungan hipotonis (konsentrasi air di dalam badan lebih rendah daripada konsentrasi air di luar tubuh). Oleh lantaran itu, ikan air tawar banyak mengekskresikan urin. Sebaliknya, ikan air maritim hidup di lingkungan hipertonis (konsentrasi air di dalam badan lebih tinggi daripada konsentrasi air di luar tubuh) sehingga ikan maritim sedikit mengekspresikan urin.
Setelah penyerapan garam-garam badan selesai, terbentuklah urin yang pada kenyataannya tidak lebih daripada air saja, lantaran sebagian besar limbah nitrogen dibuang secara difusi melalui insang. Bagi ikan air tawar, ginjal merupakan alat keseimbangan air, selain sebagai alat ekskresi. Dari ginjal, urin akan dialirkan ke kanal urin menuju kloaka atau bahkan pribadi ke luar melalui pori/lubang urinaria, bersebelahan dengan lubang kotorannya.
Ginjal pada ikan yang hidup di air tawar dilengkapi sejumlah glomelurus yang jumlahnya lebih banyak. Sedangkan ikan yang hidup di air maritim mempunyai sedikit glomelurus sehingga penyaringan sisa hasil metabolisme berjalan lambat. Salinitas yang tinggi menjadikan cairan tubuhnya tersedot ke luar terus-menerus.
Pada ikan bertulang rawan, ibarat ikan hiu, ginjalnya lebih banyak menyerap urea kembali ke dalam darahnya. Ini dilakukan supaya tekanan osmosis darah sama dengan tekanan osmosis air laut. Keadaan isotonis ini sanggup mencegah mengalirnya cairan badan ke luar. Kadar urea dalam darah hiu hampir 80 kali lipat kadar urea pada vertebrata lainnya. Fungsi ginjal ikan maritim sama dengan ginjal vertebrata darat, yaitu menyaring limbah nitrogen, garam-garam, dan sedikit sekali air. Pebedaan hanya terdapat pada kadar ureanya.
Ginjal pada ikan yang hidup di air tawar dilengkapi sejumlah glomelurus yang jumlahnya lebih banyak. Sedangkan ikan yang hidup di air maritim mempunyai sedikit glomelurus sehingga penyaringan sisa hasil metabolisme berjalan lambat. Salinitas yang tinggi menjadikan cairan tubuhnya tersedot ke luar terus-menerus.
Pada ikan bertulang rawan, ibarat ikan hiu, ginjalnya lebih banyak menyerap urea kembali ke dalam darahnya. Ini dilakukan supaya tekanan osmosis darah sama dengan tekanan osmosis air laut. Keadaan isotonis ini sanggup mencegah mengalirnya cairan badan ke luar. Kadar urea dalam darah hiu hampir 80 kali lipat kadar urea pada vertebrata lainnya. Fungsi ginjal ikan maritim sama dengan ginjal vertebrata darat, yaitu menyaring limbah nitrogen, garam-garam, dan sedikit sekali air. Pebedaan hanya terdapat pada kadar ureanya.
Ikan maritim yang bertulang keras ibarat bandeng misalnya mengatasi kehilangan air dengan meminum air secara terus-menerus, sedangkan garam yang ikut tertelan akan dikembalikan ke maritim melalui transpor aktif oleh insang. Sementara itu, ginjal akan sesedikit mungkin membentuk urin. Agar pembentukan urin tidak terlalu banyak, ikan maritim mempunyai glomerulus yang sangat kecil. Namun, ada beberapa jenis ikan maritim yang tidak mempunyai glomerulus. Garam-garam dan limbah nitrogen dikeluarkan melalui tubulus dan sistem portal renal yang baik.
3. Sistem Ekskresi pada Katak
Amfibi mempunyai ginjal tipe opistonefros. Sama halnya dengan ikan air tawar, ginjal juga berfungsi untuk keseimbangan air di dalam tubuh. Ginjal katak juga harus bekerja menyesuaikan diri dengan cara hidup katak yang sewaktu-waktu di air dan sewaktu-waktu di darat.
Pada dikala di darat, ajaran darah pada glomerulus terbatas. Oleh lantaran itu, zat-zat buangnya akan diserap oleh tubulus melalui sistem portal renal. Selain itu, katak mempunyai kantong kemih. Pada dikala kekurangan air, air dalam kantong kemih diserap kembali ke dalam darah.
Saluran ekskresi pada katak jantan & betina mempunyai perbedaan, pada katak jantan kanal kelamin & kanal urin bersatu dengan ginjal, sedangkan pada katak betina kedua kanal itu terpisah. Walaupun begitu alat lainnya bermuara pada satu kanal dan lubang pengeluaran yang disebut kloaka.
Related:
4. Sistem Ekskresi pada Reptilia
Sistem ekskresi pada reptil berupa ginjal, paru-paru, kulit dan kloaka. Kloaka merupakan satu-satunya lubang untuk mengeluarkan zat-zat hasil metabolisme. Reptil yang hidup di darat sisa hasil metabolismenya berupa asam urat yang dikeluarkan dalam bentuk materi setengah padat berwarna putih. Ginjal reptilia bertipe metanefros, bentuk ginjalnya berbeda-beda. Pada ular dan kadal ginjalnya panjang dan sempit. Posisi kedua ginjal bukan lagi berdampingan di kiri dan kanan tubuh, namun ginjal yang satu terletak di bab belakang ginjal yang lainnya.
Ular, buaya, dan biawak tidak mempunyai kantong kemih. Untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan yang kering, ketiga anggota reptil tersebut mengubah urinnya menjadi asam urat dan membuangnya dalam bentuk kering ibarat pasta putih. Pada kotoran tokek atau cicak biasanya separuh hitam dan ujungnya putih. Bagian hitam merupakan feses (tinja) dan yang putih asam urat. Jadi, sebagian besar anggota reptilia membuang limbah nitrogen tanpa kehilangan air. Hal ini penting lantaran lingkungan mereka yang sangat kering dan kulitnya tertutup sisik tebal.
Pada kadal dan kura-kura, ginjal meneruskan urin ke vesika urinaria (kantong kemih) melalui ureter yang pendek. Kantong kemih meneruskan lagi ke kloaka. Kura-kura tertentu mempunyai dua kantong perhiasan pada kantong kemihnya sebagai alat bantu respirasi. Pada kura-kura betina, kedua kantong perhiasan itu terkadang berisi air untuk membasahi tanah di tempatnya bertelur supaya lunak dikala digali.
5. Sistem Ekskresi pada Burung (Aves)
Alat pengeluaran pada burung berupa ginjal, kanal ginjal, kanal kelamin, dan kanal pencernaan yang bermuara pada sebuah lubang yang disebut kloaka. Burung menghasilkan kelenjar minyak yang terdapat pada ujung ekornya. kelenjar ini menghasilkan minyak untuk membasahi bulu-bulunya. Oleh lantaran kebiasaan terbangnya maka menjadikan burung efektif mengatur bobot tubuhnya. Agar tidak menjadi beban, burung tidak mempunyai kantong kemih. Urea dibuang dalam bentuk asam urat. Hanya burung unta (ostrich) yang mempunyai kantong kemih.
Asam urat yang dikeluarkan bersama feses warnanya putih dan ibarat pasta. Dalam ginjal burung tidak ada sistem portal renal, seluruh penyerapan limbah dilakukan oleh glomerulus. Jadi, meskipun glomerulus kecil, namun aktivitasnya tinggi lantaran tidak ada proteksi dari sistem portal renal.